Wanita ini… Begitu sederhana, dengan hati yang bersahaja. Membuatku mengerti arti “cantik” yang sesungguhnya. Wanita ini pula yang telah melukiskan gambar biru diatas kanvas hitam hatiku, menorehkan sedikit banyak tentang pahit, asam, asin dan manisnya kehidupan. Begitu sabarnya wanita ini mengikis sedikit demi sedikit ego yang aku sendiri tidak tahu kapan memulai itu.
Empat tahun sudah, wanita yang dulu akrab ku sapa dengan “Cik” ini menemani jalan berliku yang sedikit ku paksa untuk indah mendayu diantara paraunya waktu. Masih ku ingat,,, dulu kita sering bercerita tentang setangkai edelweiss dan udara malam yang terkadang dingin menusuk tulang. Cik, terimakasih untuk waktu dulu.
Tepat lima puluh satu hari yang lalu, wanita ini akhirnya resmi ku sapa dengan “Bunda”. Sebuah kado teristiwemah bagiku tentunya, takkala dia mempersembahkan bingkisan terindah “Gusty Anji Ramadhan” yang kini ku lihat semakin kokoh. Dan ku harap kekokohannya melebur dalam asa jiwa yang haus akan kenyataan hidup, bukan hanya pengharapan semata.

Ya, tanpa ku sadari, satu tahun sudah wanita ini menemani lelah dan lelap dalam mimpi yang selalu ku harap indah. Andaipun nanti wanita ini bertanya, aku takkan pernah menyesali apa yang telah dan akan terjadi nanti.

Teruntuk Bunda Tyan, wanita ku, mata dan hatiku. (10/10/2010 – 10/10/2011)