Lagi dan lagi, takpernah aku lewatkan deru ombak yang menyapu lembut hitamnya karang dipalung-palung tawa dan canda.
Tiada pernah aku menyapa pelangi yangterbias indah dengan warna cinta ketika badai debu dan gerimis pilumereda.
Tiada aku tahu begitu ramah sinar mentari pagi dalammisterinya, dibalut benang-benang biru yang terajut membentukbayangan-bayangan asa.
Sayang…Kita tak pernah tahu.
Karena tak adarayu ketika tangkai putri malu tertunduk saat kita berdua mencari jawabtentang tanya pada semua senyum tulus.
Kupasrahkan segenap raga,kutitip seluruh jiwa.
Andai kau yakin pada aliran-aliran mata hati yangmengaliri telaga-telaga di pinggiran hutan cemara, takkan pernah akuambil kembali semua jiwa.
Biarkan ia tetap mendaki, menuruni lembah danbukit-bukit hijau di matamu.
Biarkan tetap indah.
Sampai kau takkanpernah meninggalkan setiap serpihan-serpihan bintang-bintang di utara.
Seperti Dosa, namun terlalu indah untuk kata dan sebuah arti yangterlarang.
Apa kau tahu, setiap kecupan-kecupan dihati bagaikan seorangibu yang menidurkan bayinya, didalam dekapan, diatas pangkuan, denganbelaian-belaian selembut kain sutra yang masih baru,bukankah ituterlalu indah untuk sebuah dosa???.
Masih aku rasakan dinginnya airyang mengendap di savana.
Diantara butiran-butiran pasir dankerikil,putih,bersih dan jernih.
Sampai ketika waktu menyapa setiapgaris tipis yang melingkar indah di pelukkanku.
Dan aku tak mampumenghadang beratnya rindu. Kubiarkan tetap menyiksa indah.